Tidak terasa, kepengurusan Takmir Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri telah mencapai satu tahun. Kepengurusan yang resmi dilantik pada bulan Februari lalu ini dinyatakan demisioner pada malam Senin (28/2) setelah melaporkan pertanggungjawabannya (LPJ) di hadapan Pengurus PPNU Pi. LPJ dimulai pada pukul 22.30 WIB bertempat di Kantor PPNU Pi. Dari total 14 pengurus takmir, dua di antaranya berhalangan hadir, sedangkan dari pihak pengurus DPH dan koordinator hanya satu yang berhalangan hadir. Meskipun peserta sidang LPJ tidak lengkap, acara dapat berjalan dengan lancar. Acara dimulai dengan pembukaan, pembacaan laporan dilanjutkan sesi tanya jawab. Pada sesi tanya jawab ini, baik dari pihak takmir maupun pengurus PPNU Pi saling memberikan kritik, saran, masukan, dan juga pertanyaan sehingga komunikasi dapat berlangsung aktif dari dua arah. Hasil dari sesi tanya jawab inilah yang nantinya dapat dijadikan evaluasi untuk kepengurusan yang akan datang. Setelah sesi tanya jawab, Ketua Umum PPNU Pi, Ibu Khamdiyah, S.Pd.I membacakan hasil musyawarah pengurus terkait keputusan terhadap LPJ takmir periode 1435-1436 H tersebut.
“Setelah menimbang dan mengadakan koreksi seperlunya, Laporan Pertanggungjawaban Takmir PPNU Pi periode 1435-1436 H kami nyatakan demisioner dengan syarat revisi selama satu minggu” ungkap Ibu Khamdiyah, S.Pd.I yang disusul dengan applaus dari seluruh peserta sidang.
Sebelum acara diakhiri, terlebih dahulu dari pihak takmir dan pengurus masing-masing memberikan sambutan. Dalam sambutan takmir, Rika Rahim sebagai ketua mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf kepada seluruh pihak, terutama kepada pengurus PPNU Pi apabila terdapat kesalahan selama satu tahun kepengurusan. Tidak jauh berbeda dengan sambutan pengurus PPNU Pi, Ibu Fitri Nur Badriyah, S.I.Kom. juga menyampaikan ungkapan terimakasih beserta apresiasinya terhadap pihak takmir yang telah melakukan tugasnya dengan baik. “Sebelum ada pelantikan pengurus takmir baru, mohon tetap melaksanakan tugas seperti biasa” ujar Ibu Fitri mengakhiri sambutannya.
Kelegaan takmir usai melepas jabatannya diungkapkan melalui foto bersama dan mushafahah dengan Pengurus PPNU Pi. Acara diakhiri pada pukul 23.45 WIB dengan pembacaan surat al-‘Ashr sebanyak tiga kali dan doa kafaratul majelis. Semoga berkah .
Minggu, 28 Februari 2016
Rabu, 24 Februari 2016
CERPEN: Harapan Kan GURU
Harapan itu tak pernah mati, bahkan saat kau merasa tidak bisa diharapkan. Harapan itu seperti bintang malam ini, di tengah keramaian lampu kota. Bintang terlihat redup, tapi keyakinan akan adanya bintang tetap ada.
Aku duduk di pinggir jalan, di depan pendopo kampoeng Ketandan. Duduk sambil menyerutup sekuteng hangatku. Aroma sekuteng yang gurih, bau kacang bakar yang dipadu dengan jenang candil yang legit, ada aroma jahe yang hangat, potongan roti, kolang-kaling dan kuah yang mengepulkan asap kenangan.
Sering kali, saat kau sudah berada dikehidupan yang sebenarnya, kau akan merindukan kehidupan di panggung-panggung pementasan, banyak pelajaran yang bisa diambil di sana, tidak hanya perkara tarik nafas, latihan vokal bahkan sampai teman dan saudara bisa kau dapati di sana.
Tetap ada rasa rindu, meski pojok-pojok pementasan tidak lagi ramai seperti sudut-sudut bioskop yang semakin laris, miris memang saat seseorang sering merindukan kenangan tanpa bisa berbuat apapun.
Bersama kehangatan malam aku ingin menuliskan kisah harapan.
Harapan itu berawal dari sebuah naskah yang gagal pentas, tentang naskah yang berjudul “Kan Guru”. Bercerita tentang sistem kepemimpinan yang kacau dalam sebuah lembaga sekolah karena banyak korupsi. Kami sempat berfikir pementasan teater kami akan sukses setelah dua bulan berlatih, tapi nyatanya malah gagal pentas. Rasanya seperti petir di siang bolong.
Tapi petir itu yang berhasil membuka gerbang-gerbang langit. “Kan Guru” telah mengenalkanku pada sang guru dan naskah-naskah teater, hingga aku menjalani hidup yang sebenarnya.
Sudah lama aku tidak bertemu sang guru, terakhir aku dengar perkara kesehatan, sang guru merasa biasa-biasa saja kecuali penyakit liver yang telah mengecilkan tubuhnya dan menggelembungkan perutnya. Pola hidup yang kurang sehat di masa remajanya membuatnya ambruk, merokok, dan mengopi sudah seperti sepasang kekasih yang sulit ditinggalkan saat muda. Beliau sempat berobat kesana kemari, aku sangat sedih ketika diceritakan keadaannya saat itu.
“Jadi apapun kami nanti, jangan berhenti menulis karena itu yang akan membesarkanmu.”
Kurekam baik-baik pesan itu hingga hari ini. Pertemuan tidak bisa kau tunda, seperti halnya hujan yang ingin membasahi bumi. Walaupun aku belum siap menemuinya, entah sampai kapan.
Di hari di mana aku harus menemui sang guru. Tubuhku sedang tidak baik karna aku baru terpeleset dari tangga, dengan hebatnya aku meluncur. Akibatnya dua tukang urut sudah kudatangi untuk meluruskan ototku, aku tidak hentinya mensugesti diriku bahwa aku baik-baik saja.
Awan hitam telah menguasai langit seperti akan turun hujan, Aku bergegas menuju sebuah universitas negeri yang dikunjungi rombongan study tour. Aku tidak akan kehilangan kesempatan ini. Di antara bus hijau yang berjajar, aku melihat beliau. Badannya telah bugar. Beliau mengajak aku makan bersama rombongan. Menu yang disajikan di restoran ini sangat bermacam-macam. Aku makan ikan bawal dan sambal yang nikmat.
“Mau sebagus apa pun tempatnya, mau seenak apapun makanannya sama saja”
Kan Guru hanya mengambil lauk tempe dan kuluban, beliau sangat menjaga pola makannya setelah sakit yang panjang.
Aku teruskan perjalananku menuju pantai dan berakhir di Malioboro saat malam telah datang.
Di dalam bus yang berjalan, kami banyak bercerita. Kan guru banyak bercerita tentang kebangkitan kembali sanggar Saktah yang sempat fakum. Saktah dalam pelajaran bacaan Ghorib berarti berhenti sejenak sekedar satu alif tanpa bernafas. di dalam Al-Quran ada empat saktah tetapi sanggar sakta hanya ada satu di hati kami. Sanggar kami sudah mulai bernafas. Perhentian yang telah mencapai satu alif, sudah saatnya melanjutkan bacaan berikutnya. Jika dalam pementasan itu berarti karya.
“Sudah berapa tulisan yang diterbitkan?”
Pertanyaan itu seprti sudah berapa gol yang kau masukkan kegawang, saat kau masih mendapati diri sebagai cadangan.
Terakhir, saat aku berpamitan, seperti apa yang dilakukan Kan Guru padaku dulu. Ia mengusap kepalaku dan mendoakanku seperti mantra. Kan guru tersenyum, sesuatu yang jarang ku dapati dulu. Ada harapan yang besar disana. Aku berbaur dengan ratusan orang di jalan malioboro yang padat. Kan guru t’lah menghilang di tengah keramaian.
Teringat kata-kata seorang teman, badanku bergetar seketika.
“Kan guru terlanjur berprasangka. Ia menyangkamu akan jadi orang besar. Ia seringkali membacakan dirimu di panggung panggung pementasan. Kau harus berusaha lebih keras.”
Ada rasa sesak yang tertahan. Aku berlari menyusuri jalan panjang, berharap bisa mendapatkan sayap merasakan tubuh yang ringan dan menemui kenangan.
Sayang seribu sayang, kenangan telah lebih dahulu terbang seperti kunang-kunang di tengah malam.
Aku tersimpuh ditepi jalan dengan pundak yang terasa lebih berat. Kutemui surau kecil, ku letakkan keningku disana. Sujudku terasa lebih nikmat malam ini, kuserahkan semua agar hidupku lebih damai. Kupejamkan mata dan berharap. (Nisae Tsalisun)
Semoga ini adalah harapan yang menghidupkan.
Syakira Juara Ketiga Festival Hadroh Championship se-DIY Jateng
Jumat (19/2) Grup Hadroh Syakira Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri berhasil meraih juara ke-3 dalam acara Festival Hadroh Championship yang diadakan oleh Panitia Haflah Ponpes Haromain Kulonprogo Yogyakarta. Festival yang diselenggarakan selama dua hari, yakni Kamis dan Jumat tersebut diikuti oleh grup hadroh se-DIY dan Jawa Tengah. PPNU-Pi sendiri mengirimkan dua delegasi yang masing-masing mewakili grup hadroh mahasiswa (Azkiya) dan pelajar (Syakira). Keduanya mendapatkan undian tampil pada hari Jumat sehingga keberangkatan menuju Ponpes Haromain dapat dilaksanakan bersamaan dengan menggunakan satu bus.
Kedua delegasi dari PPNU Pi tampil dengan maksimal, terbukti dengan dipilihnya Syakira menjadi juara ketiga kategori putri, sedangkan Azkiya masih harus bersabar. “Masih ada kesempatan berikutnya” ujar salah satu personil Azkiya sambil tersenyum. “Mungkin kita harus lebih sregep latihan lagi” tambahnya. Sebagai juara ketiga, Syakira berhak memboyong piala kemenangan beserta uang pembinaan senilai Rp1000.000,-.
“Semoga bisa menjadi motivasi untuk lebih baik ke depan.” Ibu Dwi Rahmawati bersemoga.
Senin, 18 Januari 2016
CERPEN: Hikayat Usia Empat Puluh
Apa yang bisa diharapkan dari sebuah gerobak sampah. Saat hari tengah malam, saat gelap telah menguasai seisi bumi, hanya terdengar suara jangkrik yang asik berparade, jeritan kucing yang ingin kawin, dan ini masih pukul dua. Aku melihat nenek jimah berjalan cepat menghampiri gerobak sampah kami, mengorek-ngorek gerobak sampah yang selalu penuh tiap harinya dengan macam-macam sampah, dalam satu gerobak organik dan nonorganik jadi satu.
Setiap harinya diujung pagi, jika engkau melewati lapangan karang kotagede jika beruntung, kau akan melihat segerombolan santri putri yang akan membuang sampah kepenampungan sampah lapangan karang. Bak sampah yang penuh akan selalu dibuang agar tidak menjadi sumber penyakit. Apa yang kami hindari malah enjadi sumber rejeki bagi nenek jimah. Perawakannya kecil mungil, rambutnya pendek sebahu dengan potongan bob sudah berwarna putih karna dikuasai uban, wajah kriputnya telah menjadi saksi perjalanan hari tuanya.
Sungguh malang hidup nenek walijah hidup lontang-lantung tak terurus. Sudah seperti shalat lima waktu pertemuanku dengan nenek walijah, hampir setiap keluar gerbang pesantren ada nenek walijah disana, keluyuran tidak tentu arah dan tujuan akhirnya hanya satu, gerobak sampah. Berharap gerobak itu selalu penuh hingga bisa dipilah-pilah dan jadi sumber rezeki. Karna merasa pilu melihat kemalangan nenek walijah tidak jarang banyak orang memberi uang receh atau sekedar roti untuk pengganjal perut, sudah digariskan gerobak sampah bukanlah sumber kehidupan yang menyejahterakan, tapi kehadiran nenek waliah membuat aku mengerti ada kehidupan disana.
Sungguh malang diri nenek walijah, keperihan hidup tidak membuat senyumnya menciut, dia tetap tersenyum dipagi dan petang. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah gerobak sampah ditengah malam seperti ini, kenapa nenek walijah selalu keluyuran tanpa aturan seprti sekarang, tujuannya tetap sama dengan puluhan tahun lalu, seakan rohnya telah menyatu bersama gerobak tua itu. Andai gerobak tua itu bisa menceritakan sebuah hikayat perjalanan hidup, nyatanya ia hanya saksi bisu sejarah. Sebenarnya sebelum aku melihat semuanya dengan mataku, aku telah mendengar hikayat usia empat puluh dengan telingaku, tentang persiapan seseorang menghadapi usia 40, diusia 40 orang sudah harus mulai menfokuskan hidupnya untuk Tuhan, walaupun itu harus dicicil dari muda. Usia 40 telah memiiki kematangan dalam berbagai aspek kehidupan. Usia 40 sering menjadi gambaran seperti apa seseorang diusia mudanya. Itupun kalau masih dipercayai untuk bernafas.
Apa hubungannya dengan nenek walijah? Ternyata sebagai seorang nenek yang sehat, ia kesulitan menyebut nama Tuhanya, padahal ia adalah seorang muslim, ia tidak bisa mengucap lafadz “Allah.”
Pernah disuatu masa ada seseorang yang mendatangi nenek walijah, nenek mencerikan kisah hidupnya yang terbuang. Ditanyai oleh seseorang itu,” nenek mislim?”Nenek walijah mengangguk, coba ucap lafadz “Allah”, nenek menggeleng “ora iso, jawab si nenek. Seseorang itu tidak habis akal dan mengambil uang lima ribu dan menunjukannya.
“Iki piro? Tanya seseorang itu dengan menunjukan uang kertas bergambar imam bonjol.
“Limang ewu, Ucap nenek walijah semringah.
Coba ucap lafadz “Allah” lidah nenek kelu, suaranya hening seseorang itu tertegun.
Nama Tuhanmu tersusun dari beberapa huruf saja, tapi kenapa uang lima ribu lebih mudah diingat. Ini masih diranah dunia betapa mengerikannya jika kelak diakherat, atau saat sakaratul maut.
Kenapa bisa seperti itu? tanyaku pada seseorang itu, yang telah menjalani berubu kehidupan.
“Karna diusia muda nenek itu telah melupakan tuhannya, dan kini saat tua ia kehilangan Tuhannya.” Ampuni aku tuhan, nasehat itu benar-benar mengakar malam ini, saat mata-mata terpejam meraih menghias malam, dan Engkau membangunkan hamba untuk menyaksikan pelajaran penghidupan yang tinggi.
Mataku tatap terpaku pada nenek walijah yang masih asik mengorek- ngorek sampah disepertiga malam, terngiang pesan “sebagai sesama muslim masih ada tanggung jawab mendo’akan, dan jika hingga meninggal belum sempat bertaubat tetap do’akan, itu akan menjadi sedekah bagimu.”
Hikayat usia 40 membuat aku mengerti, mengapa nenek walijah seperti orang linglung bahkan beberapa orang menganggapnya gila, saat ada anak kecil yang menangis dan rewel nama nenek walijah akan disebut-sebut dan seketika itu sianak akan diam. Hikayat usia 40 mengingatkan betapa hari muda mencerminkan hari tua. Aku kembali mendengarkan nasehat orang tua yang telah melewati beribu macam kehidupan. Hingga kini nenek walijah masih hidup dalam kebisuan, harinya masih ditemani gerobak sampah tua yang menambah kebisuan hari tuanya.
Tsalisun Nisa
Kotagede 16 januari 2015
Kantin Subulussalam, Kantin Kehidupan
“Kantin SS mempermudah dan menguntungkan santri putri.” Ujar Faiz salah satu santri. “Kantin Subulussalam” atau akrab di sebut “Kantin SS” berdiri sekitar awal bulan Desember dengan ukuran 2x7 m. Kantin SS disebut kantin kejujuran pasalnya pembeli dan penjual tidak selalu bertemu langsung, karena mbak kantin tidak sewaktu-waktu berada di kantin.Mbak kantin melayani pagi hari, sore, dan malam hari.Sistem kantin SS diperbolehkan menghutang dengan mencatatat utangnya di buku bon. Kantin SS dikelola oleh santri, dan untuk santri. pengunjung kantin SS sangat beragam mahasiswa dan pelajarpun sangat andil dan ikut meramaikan.
“Walaupun kantin ini masih baru, isi dan peralatanya sudah bisa dikatakan lengkap.” Ujar Yuliana salah satu pengelola Kanti SS. Kantin SS bekerja sama dengan kantin dhalem, menyediakan berbagai makanan,sayur matang dan minuman diantaranya, kopi anget, es susu, es marimas, pop es, dan miniman kemasan lainya. Makan yang paling favorit seperti telur dadar, omlet, mie telur. Dan yang membuat khas kantin SS adalah menyediakan berbagai jajanan pasar seperti gorengan, getuk, dadar gulung, dan makan unik lainya. Kantin SS juga memproduksi tahu krispi balado yang lezat. Tujuan kantin didirikan agar para santri tidak banyak keluar dari pondok, dan memudahkan santri untuk mendapatkan makanan yang dibutuhkan. Selain harga tejangkau, makananya pun dijamin higienis dan halal.
Rencana kedepan kantin SS akan terus diperbaharui dan terus dilengkapi dari isi dan peralatan, dan perlengkapanya. terkhusus tempatnya. “Kantin SS dikondisikan suci mbak.” Ngendiko Ibu Nyai Barokah Nawawi. “Setiap pengunjung kantin di anjurkan melepas alas kaki dan mejaga kesucianyan agar makanannya juga terjaga kesucian dan kehalalanya.” Ujar pengelola kantin.






















